PROFITABILITAS JASA KONSTRUKSI

December 14, 2008

Mengapa Kontraktor Rugi ?

 

Bisnis Jasa Konstruksi merupakan suatu bisnis yang berisiko disebabkan karena alamiah bisnisnya itu sendiri. Material shortages, kenaikan harga material, upah yang tidak mencukupi; maka profit margin yang tipis itu akan mudah lenyap tatkala pengendalian proses tidak dilakukan dengan hati-hati.

 

Pada tahun 2002, the Surety Information Office mempublikasikan suatu penelitian tentang ” mengapa kontraktor gagal ?” Dari sekitar 823.830 kontraktor yang beroperasi di tahun 2000 (termasuk kontraktor spesialis), hanya 71,6 % yang masih beroperasi di dua tahun berikutnya. Dan dari penelitian A Dun & Bradstreet menyebutkan bahwa tingkat kegagalan kontraktor yang bisa berumur kurang dari 5 tahun adalah 32 %, untuk yang bisa beroperasi 6 s.d 10 tahun sebesar 29 % dan yang berumur lebih dari 10 tahun, tingkat kegagalannya mencapai 39 %.

 

The Surety Bond Association of America (SAA) mempelajari terhadap 86 klaim kontraktor menyimpulkan bahwa terdapat 5 faktor utama penyebab kegagalan, yaitu :

 

1.    Pertumbuhan yang tidak realistis ( sebanyak 37 % )

 

    Disini memang tidak menyebutkan berapa persen pertumbuhan yang dianggap tidak realistis, hanya menyebutkan al :

    Ekspansi bisnis yang cepat

    Pertambahan yang signifikan terhadap ukuran & nilai proyek yang dikerjakan

    Perubahan terhadap tipe bisnis unit dan lokasinya

 

2.    Masalah perfomance  ( sebanyak 36 % ), antara lain :

 

    Tidak punya pengalaman yang cukup terhadap type pekerjaan yg dihadapi

    Tidak cukupnya kompetensi dan pengalaman staf

    Tidak tersedianya personil yang memadai

 

3.    Masalah karakter/personil  (sebanyak 29 %)

 

    Staf tidak cukup mendapatkan training

    Personil kunci terjadi turn-over

    Perubahan leadership & fokus perusahaan

 

4.    Manajemen dan akuntansi  ( sebanyak 29 %)

 

       Tidak cukupnya biaya (masalah estimasi dan procurement)

       Tidak memadainya sistim manajemen proyek

       Pelaksanaan akuntansi yang tidak baik

       Ketidakcukupan lingkup cakupan asuransi

 

 

Pada tahun 2005 The Great Thornton melakukan pengamatan terhadap kesulitan-kesulitan keuangan yang dihadapi para kontraktor yang dibandingkan dengan kejadian yang sama di tahun 1996 seperti terlihat pada tabel sebagai berikut :

 

No

Penyebab Utama

1996

2005

1

Profit margin rendah

45 %

64 %

2

Kolekting tagihan lambat

n.a

57 %

3

Kurang Modal ( Kelebihan utang )

43 %

50 %

4

Tidak cukup volume ( estimasi tidak akurat )

20 %

47 %

5

Kontrol / pengendalian kurang

26 %

38 %

6

Mismanajemen

28 %

35 %

7

Overhead tinggi

23 %

34 %

8

Risk taking yg tidak prudent

24 %

29 %

9

Eksekusi proyek lemah

16 %

21 %

10

Estimasi biaya tidak akurat

18 %

21 %

11

Change order

n.a

19 %

 

 

 

 

 

 

Dari tabel di atas, penyebab-penyebab utama kesulitan kontraktor dalam keuangan kecenderungan naik. Masalah kekurang-akuratan estimasi, pengendalian biaya yang lemah, dan profit margin yang rendah merupakan penyebab dengan trend tinggi.

 

Selanjutnya untuk mencegah atau mengurangi timbulnya kesulitan-kesulitan finansial tersebut, SAA menyiapkan suatu warning sign berupa ’ apa yang tidak boleh dilakukan’ sebagai berikut :

 

1.       Sistem manajemen keuangan yang tidak efektif,

 

       Ketidakmampuan melakukan proyeksi cash-flow, atau cash-flow saat ini berlangsung sangat ketat

       Penerimaan sangat lambat

       Vendor minta pembayaran cash

 

2.       Estimasi lemah

 

3.       Manajemen Proyek lemah

       Supervisi ’kurang’ atau lemah

       Pengelolaan Variation Order lemah

       Proyek terlambat

       Perusahaan sering terlibat dalam litigasi

 

4.     Tidak ada perencanaan bisnis yang komprehensif

       Perusahaan tidak punya rencana strategis

       Tidak ada perencanaan kontijensi

 

5.       Punya masalah komunikasi

                    Dispute antara kontraktor dan owner

           Komunikasi yang lemah antara proyek dengan manajemen office

 

 

PROFITABILITAS

 

Dari informasi tentang faktor penyebab rugi (gagal) nya kontraktor, maka masalah rendahnya profit margin, tidak akurasinya estimasi, tingginya overhead, dan lemahnya pengendalian merupakan suatu penyebab yang dominan.

 

Lalu dari sisi profit margin, berapakah yang wajar ? Berapakah yang harus ditetapkan agar cukup ’menahan’ laju loss dimana kontijensi risiko yang ada tidak mencukupi? Lalu bagaimana mensiasatinya ?

 

Kalau kita membaca laporan keuangan audited terhadap para kontraktor besar nasional pada tiga – empat tahun terakhir , maka perfomance terhadap laba kotor berkisar 6  % sampai dengan 9 %, dan Laba bersih setelah pajak hanya berkisar  antara 1,4 % sampai dengan 4 %.  Laba yg kecil ini tidak hanya terjadi pada kontraktor nasional kita, melainkan juga pada kontraktor multi nasonal, global player yang sudah berpengalaman lebih dari 100 tahun – pun, laba bersih  yang tercapai berkisar disekitar 1,5 % sampai 3 %.

 

Dengan demikian, bisnis konstruksi sangat rentan terhadap kerugian. Apabila terjadi kenaikan material besi, baja, dan metal yang timbul belakangan ini di mana tingkat kenaikannya diluar kewajaran serta ditambah lagi dengan kenaikan minyak bumi yang berdampak langsung terhadap biaya konstruksi, maka sudah pasti mudah diproyeksikan perfomance laba nanti.  Hal yang menolong suatu perusahaan konstruksi untuk tidak jatuh dan gulung tikar adalah ditopang dengan perolehan laba dari diversikasi usaha, atau ditolong dengan nilai penjualan yang besar , sehingga walaupun persentase laba kecil tetapi secara nominal masih cukup memadai untuk bisa survive dan sustain. Namun dari pada itu perlu kehati-kehatian untuk mencapai sales yang besar, jangan ’membabi-buta’ , melainkan harus didasarkan terhadap kemampuan dan kompetensi sumberdaya, terutama sumberdaya manusianya.

 

One Response to “PROFITABILITAS JASA KONSTRUKSI”

  1. zilkadri Says:

    Pada point 4 pada tabel kesulitan yang dihadapi kontraktor yaitu tidak cukup volume (estimasi tidak akurat) disebabkan oleh pihak kontraktor pede aja dengan dokumen kontrak tanpa dihitung ulang. Estimasi volume dalam kontrak tidak mendetail untuk itu kontraktor memang harus cross check mengingat waktu pengenbalian dokumen tender yang pendek maka hal ini sering diabaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s